Globalisasi
merupakan suatu keniscayaan bagi semua bangsa, termasuk Indonesia. Bangsa
Indonesia juga sudah kenyang merasakan bagaimana manis dan pahitnya terbawa
arus globalisasi. Gerakan reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Soeharto
tidak lepas dari berkah reformasi. Sebaliknya, merebaknya kejahatan dan
pornografi, misalnya, tidak dapat dilepaskan dari dampak buruk globalisasi.
Globalisasi akan membawa perubahan yang mencakup hampir semua aspek kehidupan,
termasuk bidang teknologi, sosial, dan pendidikan.Globalisasi dunia, menurut ilmuwan sosial dipicu oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pada dekade ini berlangsung sangat cepat. Jalaludin Rahmat dalam bukunya Islam Aktual bahkan menyebut fase ini sebagai era Revolusi teknologi infomasi dan komunikasi mengingat akselarsi dan percepatan perubahan dan pengaruhnya dalam berbagai sisi kehidupan manusia.
Kemajuan
di bidang teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan transaksi business
lewat kaca komputer. Jasa perbankan di saku dan genggaman tangan. Rentang jarak
antar benua sudah bukan lagi hamatan bagi manusia untuk saling berkomunikasi
melalui berbagai jejaring sosial. Dan, temuan chip komputer akan memungkinkan
seseorang membawa komputer dalam saku bajunya. Komputer tersebut sangat
interaktif dan wireless. Multi fungsi terdapat dalam komputer, sebagai
alat telepon, fax dan penyimpan data. Di samping itu, perkembangan industri
komputer akan melahirkan “Edutainment”, yakni pendidikan yang menjadi
hiburan dan hiburan yang merupakan pendidikan. Dengan “Edutainment”
proses pendidikan akan semakin menarik dan menghasilkan lulusan yang semakin
berkualitas.
Perkembangan
yang cepat di bidang teknologi, diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak
kalah cepatnya akan berdampak pada aspek kultural dan nilai-nilai suatu bangsa.
Tekanan, kompetisi yang tajam di pelbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi
globalisasi, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras.
Namun, di sisi lain, kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan juga
melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros
dan memiliki jalan pintas yang bermental “instant”. Dengan kata lain,
kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang terjadi, khususnya pada dua
dasawarsa terakhir ini, telah mengakibatkan kemerosotan moral di kalangan warga
masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Kemajuan kehidupan
ekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai keinginan material,
telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi “kaya dalam materi tetapi
miskin dalam rohani”.
Di
dunia pendidikan, globalisasi akan mendatangkan kemajuan yang sangat cepat,
yakni munculnya beragam sumber belajar dan merebaknya media massa, khususnya
internet dan media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan. Dampak
dari hal ini adalah guru bukannya satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.
Hasilnya, para siswa bisa menguasai pengetahuan yang belum dikuasai oleh guru.
Oleh karena itu, tidak mengherankan pada era globalisasi ini, wibawa guru
khususnya dan orang tua pada umumnya di mata siswa merosot.
Kemerosotan
wibawa orang tua dan guru dikombinasikan dengan semakin lemahnya kewibawaan
tradisi-tradisi yang ada di masyarakat, seperti gotong royong dan
tolong-menolong telah melemahkan kekuatan-kekuatan sentripetal yang berperan
penting dalam menciptakan kesatuan sosial. Akibat lanjut bisa dilihat bersama,
kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakin
meningkat dalam berbagai bentuknya, seperti perkelahian, corat-coret,
pelanggaran lalu lintas sampai tindak kejahatan.
Di sisi lain, pengaruh-pengaruh pendidikan yang mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan diri, kesabaran, rasa tanggung jawab, solidaritas sosial, memelihara lingkungan baik sosial maupun fisik, hormat kepada orang tua, dan rasa keberagamaan yang diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, justru semakin melemah. Nah, disinilah urgensi para pendidik, khususnya para guru, lebih khusus lagi para pendidik dan guru yang berkecimpung pada sekolah keagamaan atau sekolah yang dikelola oleh Organisasi Keagamaan, harus mengambil perhatian masalah ini dan mencari cara-cara pemecahannya. Sekolah harus menjadi benteng terakhir yang berperan membendung dampak negatif bawaan yang muncul dari teknologi informasi dan komunikasi yang menjamur tersebut.
sumber; http://izzaucon.blogspot.co.id/2014/06/tantangan-pendidikan-di-era-global.html
Di sisi lain, pengaruh-pengaruh pendidikan yang mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan diri, kesabaran, rasa tanggung jawab, solidaritas sosial, memelihara lingkungan baik sosial maupun fisik, hormat kepada orang tua, dan rasa keberagamaan yang diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, justru semakin melemah. Nah, disinilah urgensi para pendidik, khususnya para guru, lebih khusus lagi para pendidik dan guru yang berkecimpung pada sekolah keagamaan atau sekolah yang dikelola oleh Organisasi Keagamaan, harus mengambil perhatian masalah ini dan mencari cara-cara pemecahannya. Sekolah harus menjadi benteng terakhir yang berperan membendung dampak negatif bawaan yang muncul dari teknologi informasi dan komunikasi yang menjamur tersebut.
sumber; http://izzaucon.blogspot.co.id/2014/06/tantangan-pendidikan-di-era-global.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar